IKLAN

Crack the Code : Teknik Wawancara Efektif untuk Mendeteksi Bakat Hospitality Sejati

 

Dalam industri hospitality, satu senyum palsu bisa merusak reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Kita semua pernah mengalaminya: merekrut kandidat yang terlihat sempurna di atas kertas, memiliki resume yang mengkilap, namun "layu" saat menghadapi tamu yang komplain atau saat jam sibuk (rush hour).

Mengapa ini terjadi? Karena ** hospitality bukan sekadar keterampilan teknis (hard skills), melainkan sebuah karakter.**

Lalu, bagaimana cara membedakan mana kandidat yang hanya "berakting" ramah dan mana yang memang memiliki "Bakat Hospitality" di dalam dirinya? Mari kita bedah kodenya.


1. Pergeseran Paradigma: Mencari "Hospitable Spirit"

Sebelum masuk ke daftar pertanyaan, Anda harus memahami apa yang Anda cari. Di industri ini, kita bisa mengajarkan cara mengoperasikan sistem PMS atau cara menyajikan anggur, tetapi kita tidak bisa mengajarkan empati.

Bakat Hospitality Sejati biasanya memiliki tiga pilar utama:

  • Empathy (Empati): Kemampuan membaca perasaan tamu tanpa mereka harus bicara.
  • Anticipation (Antisipasi): Menyelesaikan masalah sebelum tamu menyadarinya.
  • Resilience (Ketangguhan): Tetap tenang dan elegan di bawah tekanan tinggi.

2. Teknik Wawancara Perilaku (The STAR Method)

Jangan gunakan pertanyaan tertutup seperti, "Apakah Anda orang yang sabar?" Kandidat pasti akan menjawab "Ya." Gunakan pertanyaan berbasis perilaku yang memaksa mereka menceritakan kisah nyata.

Pertanyaan Kunci untuk Mendeteksi Empati:

"Ceritakan saat Anda harus menghadapi tamu yang sangat tidak puas, meskipun itu bukan kesalahan Anda. Apa yang Anda lakukan?"

Apa yang dicari: Apakah mereka menyalahkan rekan kerja? Atau apakah mereka fokus pada validasi perasaan tamu dan mencari solusi?

Pertanyaan Kunci untuk Mendeteksi Inisiatif:

"Coba ingat momen di mana Anda memberikan pelayanan yang melebihi standar operasional (extra mile) tanpa diminta atasan. Mengapa Anda melakukannya?"

Apa yang dicari: Kandidat hebat tidak menunggu perintah untuk membuat tamu merasa spesial. Mereka merasa puas ketika orang lain bahagia.


3. Gunakan "The Curveball Question"

Terkadang, Anda perlu keluar dari skrip untuk melihat kepribadian asli mereka di luar jawaban yang sudah mereka hafalkan.

  • "Apa hal yang paling mengganggu Anda dari perilaku orang lain?" (Mendeteksi tingkat toleransi).
  • "Jika Anda adalah sebuah hidangan atau minuman, Anda akan menjadi apa dan mengapa?" (Melihat kreativitas dan kepercayaan diri spontan).

4. Simulasi atau "Role-Play" Singkat

Wawancara hospitality tidak boleh hanya duduk diam. Mintalah mereka melakukan simulasi kecil di tempat.

Skenario: “Bayangkan saya adalah tamu yang sudah menunggu makanan selama 45 menit dan saya sangat marah. Dekati meja saya sekarang.”

Perhatikan:

  1. Bahasa Tubuh: Apakah mereka menjaga kontak mata? Apakah postur tubuh mereka terbuka?
  2. Nada Suara: Apakah tenang atau terdengar defensif?
  3. Kemampuan Multitasking: Bisakah mereka tetap tenang meski suasana berisik?

5. Perhatikan Detail Non-Verbal (The Invisible Interview)

Wawancara sebenarnya dimulai sejak kandidat berjalan masuk ke gedung Anda.

  • Bagaimana mereka menyapa satpam atau resepsionis di depan?
  • Apakah mereka merapikan kursi setelah wawancara selesai?
  • Apakah mereka mengucapkan terima kasih secara tulus?

Seseorang yang memiliki hospitality spirit akan memperlakukan setiap orang sebagai tamu, bukan hanya pewawancara yang memegang kendali nasib mereka.


Menemukan "permata" di industri hospitality membutuhkan ketelitian lebih dari sekadar membaca CV. Dengan menggunakan teknik wawancara yang menggali pengalaman emosional dan simulasi nyata, Anda bisa membangun tim yang tidak hanya bekerja, tapi benar-benar peduli.

 


Post a Comment

Previous Post Next Post