IKLAN

Rahasia HRD Hotel Membangun Tim yang Ramah Senyum

Pernahkah Anda memasuki lobi hotel dan seketika merasa "pulang" hanya karena sapaan hangat dan senyum tulus dari staf di pintu depan? Di balik kenyamanan kasur king size dan kemewahan fasilitas, senyuman adalah aset paling berharga sebuah hotel.

Namun, menciptakan tim yang konsisten ramah bukan sekadar instruksi "tolong tersenyum." Ada strategi mendalam yang dilakukan oleh departemen HRD di balik layar. Mari kita bedah rahasia mereka dalam membangun tim yang memiliki Hospitality DNA.

 


1. Merekrut "Attitude", Melatih "Skill"

Rahasia pertama HRD hotel bintang lima adalah prinsip: Hire for attitude, train for skill. Kemampuan teknis seperti menggunakan sistem reservasi atau menata meja bisa diajarkan dalam hitungan minggu. Namun, empati dan ketulusan adalah karakter bawaan. Saat wawancara, HRD biasanya memperhatikan:

  • Resiliensi: Bagaimana kandidat bereaksi saat menghadapi pertanyaan sulit.
  • Bahasa Tubuh: Apakah mereka melakukan kontak mata dan tersenyum secara natural.
  • Micro-expressions: Apakah senyum mereka mencapai mata (Duchenne smile) atau hanya formalitas di bibir.

 

2. Membangun Budaya "Happy Employee, Happy Guest"

Tidak mungkin mengharapkan karyawan tersenyum tulus jika mereka sendiri tidak merasa bahagia di tempat kerja. HRD yang cerdas memahami bahwa karyawan adalah tamu internal pertama mereka.

Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung keceriaan, hotel biasanya menerapkan:

  • Apresiasi Rutin: Program seperti "Employee of the Month" bukan sekadar pajangan foto, tapi bentuk pengakuan nyata.
  • Kesejahteraan Kerja: Fasilitas kantin yang bersih dan jam kerja yang manusiawi sangat berpengaruh pada mood staf saat melayani tamu.

 

3. Kekuatan Ritual "Morning Briefing"

Pernah melihat staf hotel berkumpul melingkar di pagi hari? Itu bukan sekadar absensi. Morning briefing adalah momen untuk menyelaraskan energi. HRD dan Manajer Departemen menggunakan waktu ini untuk:

  • Berbagi Testimoni: Membacakan ulasan positif tamu sebagai booster semangat.
  • Roleplay: Melatih skenario sulit dengan cara yang menyenangkan agar staf lebih siap dan percaya diri.

 

4. Pelatihan Empati Secara Berkala

Senyum yang dipaksakan akan terasa "plastik" dan justru membuat tamu tidak nyaman. Oleh karena itu, HRD sering mengadakan pelatihan Emotional Intelligence.

Staf diajak untuk memposisikan diri sebagai tamu yang mungkin sedang lelah setelah penerbangan 12 jam atau stres karena urusan bisnis. Ketika staf mampu merasakan apa yang dirasakan tamu, senyum ramah itu akan muncul secara otomatis sebagai bentuk empati, bukan beban kerja.

 

5. Pemberdayaan (Empowerment)

Staf yang merasa terkekang oleh aturan kaku cenderung terlihat tegang. HRD hotel yang sukses biasanya memberikan "ruang gerak" bagi karyawan untuk mengambil keputusan kecil demi membahagiakan tamu tanpa harus selalu melapor ke atasan. Rasa percaya dari manajemen inilah yang membuat karyawan bekerja dengan bangga dan wajah yang cerah.

 


"Orang mungkin lupa apa yang Anda katakan, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana Anda membuat mereka merasa." — Maya Angelou.


 

Membangun tim yang ramah senyum adalah investasi jangka panjang. Ia dimulai dari proses rekrutmen yang tepat, dirawat dengan budaya kerja yang manusiawi, dan diperkuat dengan pelatihan yang menyentuh sisi emosional. Ketika seorang karyawan merasa dihargai, senyuman bukan lagi bagian dari seragam, melainkan sebuah identitas.

 

 


Post a Comment

Previous Post Next Post